dosa besar

Dosa Besar yang Paling Besar

Oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawy

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَا رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوْا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَجِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللهِ مَا لا تَعْلَمُوْنَ. ﴿الأعراف: ٣٣﴾

Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi dan mengharamkan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu serta berbicara tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al-A’raf: 33)

Makna Lafazh

الْفَوَاحِشَ

Perbuatan-perbuatan keji

Maksud perbuatan keji yang termaktub dalam ayat ini adalah dosa-dosa besar yang dianggap kotor dan keji, seperti zina, homoseksual atau yang lainnya. Demikian penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam Tafsirnya 3/22.

Syaikh Khalil Harras dalam kitabnya Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah tahqiq Alwi As-Seqqaf, hal. 136 menerangkan bahwa perbuatan keji yang dimaksud dalam ayat ini mencakup perbuatan lahir yang mengandung unsur syahwat dan kelezatan semisal zina, homo, dan yang semacamnya. Mencakup pula perbuatan batin seperti sombong, ‘ujub (bangga diri), cinta kedudukan, cinta kepemimpinan dan yang lainnya.

مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Yang nampak

Perbuatan keji yang nampak dalam ayat ini diterangkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ adalah bertelanjang ketika thawaf di Baitullah Ka’bah seperti kebiasaan orang jahiliyah. Sebagaimana dinukilkan oleh Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durur Mantsur 3/44 dan Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir 2/202.

Keterangan yang sama juga diriwayatkan dari Mujahid bin Jabr Al-Makki, lihat Jami’ul Bayan 5/475 oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Fathul Qadir 2/202 oleh Asy-Syaukani.

Termasuk pula dalam keumuman ayat ini adalah mandi tanpa hijab (penutup). Hasan Al-Basri rahimahullâh menerangkan ayat ini dengan mengatakan: “Yaitu mandi tanpa sutrah/hijab”, lihat Ad-Durur Mantsur 3/447.

وَمَا بَطَنَ

dan yang tersembunyi

Perbuatan keji yang tersembunyi yang tersebut dalam ayat ini secara khusus ditafsirkan oleh para ahli tafsir dengan perbuatan zina dan sejenisnya. Di antaranya Ibnu ‘Abbas dan muridnya Mujahid bin Jabr Al-Makki. Lihat Jami’ul Bayan 5/475, Ad-Durur Mantsur 3/447 dan Fathul Qadir 2/202.

Namun ayat ini berlaku umum mencakup semua perbuatan keji secara tersembunyi baik yang berhubungan dengan badan atau perbuatan hati seperti angkuh, ‘ujub, riya’, kemunafikan dan yang semisalnya. Demikian yang diterangkan oleh Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam Tafsirnya 3/22.

وَالإِثْمَ

dan perbuatan dosa

Diriwayatkan dari Mujahid bin Jabir Al-Makki bahwa perbuatan dosa yang tersebut dalam ayat ini adalah semua perbuatan maksiat. Demikian pula diriwayatkan dari As-Suddi bahwa beliau menerangkan ayat ini senada dengan keterangan Mujahid. Lihat Jami’ul Bayan 5/476, Ad-Durur Mantsur 3/448 dan Fathul Qadir 2/202.

Dari kalangan ulama sekarang juga ada yang memberikan keterangan yang hampir sama dengan keterangan pendahulunya.

Syaikh Shalih Fauzan dalam Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah halaman 74 menjelaskan bahwa perbuatan dosa di sini ialah semua perbuatan maksiat yang menjerumuskan ke dalam perbuatan dosa. Demikian pula dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitabnya Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah 1/371.

Pendapat ini adalah pendapat sebagian besar ahli tafsir. Ada juga yang mengatakan bahwa dosa di sini adalah minum khamr (minuman keras) karena perbuatan ini merupakan induk semua perbuatan dosa. Seperti yang diriwayatkan oleh Hasan Al-Basri dan disebutkan oleh Imam Al-Baghawi dalam Ma’alimut Tanzil 2/468.

وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ

dan melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar

Yakni melanggar hak manusia dalam hal darah, harta dan kehormatan. Hal ini mencakup pelanggaran hak-hak Allah juga hak hamba-Nya. Demikian dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam Tafsirnya 3/22.

Imam Al-Baghawi menjelaskan: “Yakni kezhaliman yang besar.” (lihat Ma’alimut Tanzil 2/468). Syaikh Shalih Fauzan juga menyatakan: “Yakni kezhaliman yang melampaui batas dan memusuhi manusia.” (lihat Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah halaman 74).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa semua pelanggaran hak pasti dilakukan tanpa alasan yang benar. Demikian keterangan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitabnya Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah 1/371.

وَأَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللهِ مَا لا تَعْلَمُوْنَ

dan kalian berbicara tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui

Allah Ta’ala telah mengharamkan dan melarang hamba-hamba-Nya untuk berbicara tentang diri-Nya apa yang tidak mereka ketahui, baik yang berkaitan dengan nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya atau syari’at-Nya. Karena hal itu akan membawa kerusakan yang fatal dan mengandung unsur kezhaliman dan kelancangan terhadap Allah serta merubah agama dan syari’at Allah. Demikian penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam Tafsirnya 3/22.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin juga menerangkan: “Allah telah mengharamkan kita berbicara tentang Allah tanpa ilmu, baik yang berkaitan dengan Dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya atau hukum syari’at-Nya.” (Lihat Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah 1/372)

Tafsir Ayat

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan lima hal yang disepakati oleh semua syariat agama samawi.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin menyatakan: “Para ulama mengatakan bahwa lima larangan ini termasuk yang disepakati keharamannya oleh semua syari’at.” (Lihat Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah 1/372 dan Ta’liq Al-Aqidah Al-Wasithiyah, hal. 30)

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَغَارُ وَغِيْرَةُ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الْمَرْءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ. (رواه البخاري ٥٢٢٩ ومسلم ٢٧٦١)

Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Pencemburu dan akan cemburu bila ada orang yang mengerjakan apa yang Dia haramkan. (HR. Muslim 5229 dan Muslim 2761)

Dalam riwayat Sa’ad bin Ubadah disebutkan bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتَعْجَبُوْنَ مِنْ غِيْرَةِ سَعْدٍ؟ فَوَ اللهِ لأَنَا أَغْيَرُ وَ اللهُ أَغْيَرُ مِنِّى مِنْ أَجْلِ غِيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. (رواه البجاري ٧٤١٦ ومسلم ١٤٩٩)

Apakah kalian heran dengan kecemburuan sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu (daripada dia) dan Allah lebih cemburu daripada aku. Karena itulah Allah mengharamkan perbuatan keji, baik yang Nampak maupun yang tersembunyi. (HR. Bukhari 7416 dan Muslim 1499)

Dalam ayat ini Allah menerangkan lima perkara haram secara berurutan dimulai dari yang rendah tingkat keharamannya dan diakhiri dengan yang paling besar keharamannya sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau A’lamul Muwaqi’in 1/38 sebagai berikut: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan berbicara tentang-Nya tanpa ilmu dalam berfatwa dan menjadikan perbuatan tersebut sebagai perkara haram terbesar bahkan berada di peringkat teratas dari semua keharaman. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَا رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ… ﴿الأعراف: ٣٣﴾

Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji… (Al-A’râf: 33)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan keharaman menjadi empat tingkatan. Allah memulainya dengan yang paling ringan yaitu fawahisy (perbuatan keji) kemudian menyebutkan tingkatan kedua yang lebih besar keharamannya yaitu perbuatan dosa dan kezhaliman, lalu tingkatan ketiga yang kebih keras keharamannya yaitu menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tingkatan keempat yang paling besar keharamannya yaitu berbicara tentang-Nya tanpa ilmu yang mencakup pembicaraan tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, agama dan syari’at-Nya….! (Lihat pula Mukhtasar Iqadhil Himam Ulil Abshar halalaman 115).

Pertama, Allah menyebutkan fahisyah (perbuatan keji) yang ditafsirkan para ulama dengan perbuatan zina berdasarkan firman Allah:

وَلا تَقْرَبُوْا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلا. ﴿الإسراء: ٣٢﴾

Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu fahisyah (perbuatan keji) dan suatu jalan yang buruk. (Al-Isra’: 32)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menerangkan: “Termasuk perbuatan zina adalah seseorang menikahi yang haram dinikahi, baik karena masih ada hubungan famili, persusuan atau hubungan ipar. Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَنْكِحُوْا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلا. ﴿النساء: ٢٢﴾

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji (fahisyah), dibenci oleh Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). (An-Nisa’: 22)

Perbuatan ini bahkan lebih jelek daripada perbuatan zina, karena perbuatan tersebut disifati oleh Allah dalam ayat di atas dengan tiga sifat yaitu perbuatan keji, dibenci dan sejelek-jelek jalan yang ditempuh. Sedangkan perbuatan zina hanya disifati dengan dua sebutan yaitu sebagai perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan yang ditempuh.” (Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah 1/370-371)

Perbuatan keji (fahisyah) juga ditafsirkan dengan perbuatan kaum Nabi Luth yaitu liwath (homoseks). Allah berfirman:

وَلُوْطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِيْنَ ﴿٨٠﴾ إِنَّكُمْ لََتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُوْنَ. ﴿الأعراف: ٨٠٨١﴾

Dan (Kami juga mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji/homoseks) yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas. (Al-A’raf: 80-81)

Kedua, Allah menyebutkan al-itsm (perbuatan dosa) yang ditafsirkan para ulama dengan perbuatan maksiat atau secara khusus ditafsirkan dengan minum khamr (minuman keras) yang merupakan sumber segala dosa dan kemaksiatan. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam yang menerangkan tentang perbuatan maksiat dan minum khamr.

Ketiga, Allah menyebutkan perbuatan haram yang lebih besar dibanding sebelumnya yaitu al-baghy (menzhalimi orang). Di ayat lain Allah Ta’ala menegaskan:

إِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنِ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَيَبْغُوْنَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ. ﴿الشورى: ٤٢﴾

Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia (al-baghyu) dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih. (Asy-Syura: 42)

Keempat, Allah menyebut perbuatan syirik yang lebih keras keharamannya dibanding dengan yang sebelumnya. Hal ini sangat jelas karena Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ… ﴿النساء: ٤٨﴾

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An-Nisa’: 48)

Allah juga berfirman:

… إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ. ﴿المائدة: ٧٢﴾

… Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya adalah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang yang zhalim itu seorang penolong pun. (Al-Maa’idah: 72)

Kelima, Allah menyebutkan perbuatan haram yang paling besar dan keras keharamannya yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu.

Larangan Berbicara tanpa Ilmu

Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang melarang berbicara tanpa ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلا. ﴿الإسراء: ٣٦﴾

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. (Al-Isra’: 36)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa berbicara tanpa ilmu adalah jalan setan. Allah berfirman:

… وَلا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ. ﴿١٦٨﴾ إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللهِ مَا لا تَعْلَمُوْنَ. ﴿البقرة: ١٦٨-١٦٩﴾

… Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al-Baqarah: 168-169)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan panjang lebar tentang bahaya berbicara tentang agama Allah tanpa ilmu. Beliau berkata: “Berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah keharaman yang paling besar dan keras dosanya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, karena mengandung unsur dusta atas nama Allah, menyandarkan sesuatu yang tidak pantas kepada Allah, merubah agama dan syari’at Allah, meniadakan apa yang Allah tetapkan, menetapkan apa yang Allah tiadakan, mewujudkan apa yang telah Allah batalkan, membatalkan apa yang telah Allah wujudkan, memusuhi orang-orang yang Allah cintai, mencintai orang-orang yang Allah benci, menyukai apa yang Allah murkai dan membenci apa yang Allah sukai serta mensifati Allah dengan sesuatu yang tidak pantas untuk-Nya, baik pada dzat-Nya, sifat-Nya, ucapan maupun perbuatan-Nya.

Tidak ada keharaman dan dosa yang lebih besar di sisi Allah daripada perbuatan ini karena ia adalah sumber kesyirikan dan kekufuran. Atas dasar inilah semua kebid’ahan dan kesesatan dibangun karena semua kebid’ahan yang menyesatkan dalam perkara agama asasnya adalah berbicara atas Allah tanpa ilmu.

Oleh sebab itu para imam salafush shalih sangat keras mengingkari kebid’ahan. Dari semua penjuru dunia mereka berteriak memperingatkan umat dari fitnah kebid’ahan. Pengingkaran mereka terhadap kebid’ahan lebih keras daripada pengingkaran mereka terhadap perbuatan keji, kezhaliman dan permusuhan. Karena madharat yang ditimbulkan bid’ah dalam menghancurkan agama ini lebih besar daripada dosa selainnya. Allah ‘Azza wa Jalla telah mengingkari orang yang menyandarkan pada agama-Nya penghalalan dan pengharaman sesuatu tanpa ada bukti dan keterangan yang jelas dari Allah. Allah berfirman:

وَلا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلالٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوْا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُوْنَ. ﴿النحل: ١١٦﴾

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (An-Nahl: 116)

Lalu bagaimana kiranya orang-orang yang mensifati Allah dengan apa yang tidak Allah sifatkan untuk diri-Nya atau meniadakan sifat-sifat Allah.

Sesungguhnya asal-muasal kesyirikan dan kekufuran adalah berbicara atas Allah tanpa ilmu. Karena seorang musyrik mengira bahwa orang yang dia jadikan sebagai sesembahan selain Allah dapat mendekatkan dan memberi syafaat serta memenuhi semua kebutuhan dia di sisi Allah layaknya seorang perantara di sisi seorang raja. Maka setiap musyrik adalah orang yang berbicara atas Allah tanpa ilmu, bukan sebaliknya1. Karena berbicara atas Allah tanpa ilmu terkadang mengandung unsur mengada-adakan bid’ah dalam agama sehingga ia lebih umum daripada syirik….” (Lihat Bughyatul Qashidin hal. 135-136)

Dalam kitab Ad-Da’u wad Dawa’ hal. 219-221, tahqiq Syaikh ‘Ali Hasan ‘Abdul Hamid, Ibnul Qayyim rahimahullâh juga menjelaskan: “… dan yang lebih besar lagi mafsadah-nya ialah berbicara atas Allah tanpa ilmu, baik dalam hal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya maupun perbuatan-perbuatan-Nya…. Perbuatan ini sangat menentang dan meniadakan hikmah Dzat yang memiliki penciptaan dan perintah, mencacati rububiyah dan kekhususan ilahiyah Allah itu sendiri. Kalau perbuatan ini dilakukan berdasarkan imu, maka hal ini adalah penentangan yang lebih jelek dan lebih besar dosanya daripada syirik karena seorang musyrik yang menetapkan sifat-sifat ketuhanan lebih baik daripada orang yang menentang dan menolak kesempurnaan sifat ketuhanan…”

Kemudian di antara faktor yang mendorong seseorang untuk berbicara tanpa ilmu adalah cinta dunia dan kedudukan. Ibnul Qayim Al-Jauziyah dalam kitabnya Al-Fawaid hal. 98-99 dengan panjang lebar menjelaskan: “Setiap ulama yang lebih mementingkan dunia dan mencintainya pasti akan berbicara atas Allah tanpa ilmu yang benar baik dalam fatwanya atau dalam mengabarkan dan memegangi hukum Allah. Hal itu karena hukum-hukum Allah hampir seluruhnya bertentangan dengan kehendak orang, lebih-lebih orang yang cinta pangkat dan mengikuti syahwat. Mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan melainkan dengan menentang dan menolak al-haq.

Bila seseorang alim atau seorang hakim cinta pangkat dan mengikuti syahwat, maka tujuannya tidak akan tercapai kecuali bila dia menentang al-haq yang merintangi keinginannya. Terlebih lagi bila dia telah termakan syubhat, maka terkumpullah syahwat dan syubhat yang akhirnya al-haq pun lenyap darinya ….”

Bahaya Berfatwa tanpa Ilmu

Untuk menutup pembahasan singkat ini akan kami bawakan keterangan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i yang tersebut dalam kitabnya Riyadhul Jannah fi Raddi ‘ala A’dais Sunnah hal. 12-14 tentang bahaya berfatwa tanpa ilmu. Beliau menerangkan: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلا هُدًى وَلا كِتَابٍ مُنِيْرٍ ﴿٨﴾ ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَنُذِيْقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ. ﴿الحج: ٨-٩﴾

Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya. Dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, ia mendapat kehinaan di dunia dan di hari kiamat Kami rasakan kepadanya adzab neraka yang membakar. (Al-Hajj: 8-9)

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلا. ﴿الإسراء: ٣٦﴾

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Al-Isra’: 36)

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلُّ شَيْطَانٍ مَرِيْرٍ ﴿٣﴾ كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَنْ تَوَلاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيْهِ إِلَى عَذَابِ السَّعِيْرِ. ﴿الحج: ٣-٤﴾

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat. Yang telah ditetapkan terhadap setan itu bahwa barangsiapa yang berkawan dengannya, tentu dia akan menyesatkannya dan membawanya ke adzab neraka. (Al-Hajj: 3-4)

Allah berfirman:

وَلا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلالٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوْا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُوْنَ. ﴿النحل: ١١٦﴾

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (An-Nahl: 116)

Allah Ta’ala menggabungkan perbuatan berbicara atas Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan kepada-Nya. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَا رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوْا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَجِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللهِ مَا لا تَعْلَمُوْنَ. ﴿الأعراف: ٣٣﴾

Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan mengharamkan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) berbicara tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al-A’raaf: 33)

Berfatwa tanpa ilmu terkadang disebabkan oleh rasa takabur (sombong) dan tinggi hati. Allah berfirman bercerita tentang iblis tatkala diperintah untuk sujud kepada Adam:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَارِ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ. ﴿الأعراف: ١٢﴾

“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf: 12)

Terkadang pula disebabkan oleh hasad seperti firman Allah tentang Yahudi:

أَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيْمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكً عَظِيْمًا. ﴿النساء: ٥٤﴾

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah berikan kepada manusia itu? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (An-Nisaa’: 54)

Orang-orang Yahudi telah sering diharamkan dari dua kebaikan dunia dan akhirat akibat kedengkian mereka kepada Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan juga karena kesombongan mereka. Sebagaimana firman Allah:

وَدَّ كَثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيْمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ…. ﴿البقرة: ١٠٩﴾

Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran…. (Al-Baqarah: 109)

Seringkali Allah Ta’ala mengingkari perbuatan orang Yahudi menyembunyikan kebenaran karena dengki. Allah berfirman:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُوْنَ ﴿٧٠﴾ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُوْنَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. ﴿آل عمران: ٧٠-٧١﴾

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah padahal kamu mengetahui (kebenarannya). Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang hak dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran padahal kamu mengetahui? (Aali ‘Imraan: 70-71)

Terkadang pula berfatwa tanpa ilmu disebabkan karena takut kalah dalam berebut dunia atau mengkhawatirkan pangkatnya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّ كَثِيْرًا مِنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُوْنَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ…. ﴿التوبة: ٣٤﴾

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nashrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi orang dari jalan Allah…. (At-Taubah: 34)

Allah berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُوْنَ عَرَضَ هَذَا الأَدْنَى وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوْهُ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيْثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لا يَقُوْلُوْا عَلَى اللهِ إِلا الْحَقَّ وَدَرَسُوْا مَا فِيْهِ وَالدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ أَفَلا تَعْقِلُوْنَ. ﴿الأعراف: ١٦٩﴾

Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula) niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (Al-A’raf: 169)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: