Belajar Agama

Haramkah “jalan menuju zina”?

Salah satu kaidah ushul fiqih yang diandalkan oleh saudara-saudara kita yang menentang “pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” adalah: “Maa da’aa ilal haram, fahuwa haram”. Artinya, apa [pun] yang menjadi jalan menuju sesuatu yang haram, maka dia haram. Dalam konteks ini, “pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” dipandang sebagai “jalan menuju zina”. Karena itu, hukumnya haram, katanya.

Namun, penggunaan (secara mutlak) kaidah tersebut ditolak oleh Abu Syuqqah (dan sebagian ulama lainnya). Dengan tegas, Abu Syuqqah menyatakan: “Sarana yang Mengarah pada Sesuatu yang Terlarang, Tidak Harus Selalu Terlarang Juga” (Kebebasan Wanita, Jilid 3, hlm. 24 8) Alasannya, antara lain: “tidak selalu terlarangnya sesuatu yang mengarah pada perbuatan terlarang dapat dipahami dari sabda Rasulullah saw kepada Umar dalam masalah berciuman ketika puasa ….” (hlm. 249)

Al-Khattabi berkata, “… Berkumur-kumur dengan air adalah sarana untuk sampainya air tersebut ke dalam tenggorokan dan kemudian terus ke dalam perut. Dengan demikian, batallah puasa. Hal ini sama dengan mencium yang merupakan sarana atau jalan menuju hubungan intim [seksual] yang dapat membatalkan puasa.” (hlm. 24 8)

Umar bin Khattab berkata, “Aku merasa gembira sekali, lalu aku mencium istriku, sementara aku berpuasa. Hal itu aku katakan kepada Rasulullah saw., ‘Wahai Rasulullah, hari ini aku melakukan suatu perbuatan yang tidak terpuji. Aku mencium istriku sedangkan aku sedang berpuasa.’ Beliau menjawab, ‘Bagaimana pendapatmu jika kamu berkumur-kumur dengan air, sedangkan kamu sedang berpuasa?’ Aku menjawab, ‘Kalau itu tidak apa-apa.’ Beliau bersabda: ‘Begitu pula dengan hal [ciuman] itu.’” (Shahih Sunan Abu Daud, hadits no. 2089)

Di halaman lain pada buku yang sama (Kebebasan Wanita, Jilid 3, hlm. 239), Abu Syuqqah mengutip sebuah buku ushul fiqih karya al-Qarafi, Al-Furuq, yang menerangkan:

Para ahli membagi celah yang dapat menimbulkan kekejian itu dalam tiga macam. Pertama, seluruh ulama sepakat untuk menutup celah ini dan melarangnya dengan tegas, seperti menggali sumur di jalan umum sebab akan mencelakakan kaum muslimin. Kedua, para ulama sepakat untuk tidak melarangnya, celah ini dibiarkan saja terbuka, dan sarananya tidak perlu disingkirkan, seperti [tiadanya] larangan menanam anggur karena khawatir akan dijadikan minuman keras atau [tiadanya] larangan bertetangga dengan orang lain karena khawatir terjadi perzinaan. Ketiga, para ahli berbeda pendapat, apakah celah tersebut perlu ditutup atau tidak, seperti … memandang kaum wanita, apakah perbuatan itu haram [atau “terlarang”] karena dapat menggiring seseorang kepada perbuatan zina atau[kah] tidak [“terlarang”].

“Pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” tergolong dalam jenis celah ketiga yang mengenainya para ahli berbeda pendapat. Sebagaimana “memandang lawan-jenis”, “pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” pun “dapat menggiring pelakunya kepada perbuatan zina”. Untuk berjaga-jaga atau mencegah perbuatan zina ini, sebagian ulama melarangnya. Namun, larangan ini bukanlah haram, melainkan makruh. Abu Syuqqah menegaskan, “jelaslah bahwa larangan yang dilatarbelakangi upaya pencegahan dan untuk berjaga-jaga, atau dengan kata lain untuk saddudzdzari’ah, [itu] hanya dianggap makruh, bukan haram.” (Kebebasan Wanita, Jilid 3, hlm. 251)

Lantas, apakah “pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” itu makruh? Tunggu dulu! Meminjam fatwa Ibnu Taimiyah, Abu Syuqqah (hlm. 252) berargumen:

… apakah hal itu masih dianggap makruh jika dilakukan untuk sesuatu yang sunnah [misalnya: nikah]? Di sini terdapat keragu-raguan karena kekejian makruh bertentangan dengan kemaslahatan sunnah. Pada praktiknya, kadang-kadang makruh yang lebih kuat dan kadang-kadang pula [justru] sunnah [yang lebih kuat]. Dalam hal ini, yang diperhatikan adalah mana yang lebih kuat antara kemaslahatan dengan kemudharatan [sehingga lenyaplah syubhat atau keragu-raguan itu].

Ada kalanya, kemaslahatan “tanazhur pranikah” (dalam konteks “menuju siap nikah”) lebih kuat daripada kemudharatannya (dalam konteks “jalan menuju zina”). Oleh sebab itu, bisa kita pahami mengapa Abu Syuqqah tidak menetapkan terlarangnya “tanazhur pranikah” (atau pun “bercinta sebelum khitbah”), baik dalam bentuk haram maupun makruh. Beliau justru kadang-kadang menganjurkannya. (Lihat Kebebasan Wanita, Jilid 5, hlm. 53-62 dan 71-80.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: